PEDOMAN PROSEDUR
SMART BUILDING
SISTEM MANAJEMEN MUTU
AIRLANGGA INTEGRATED MANAJEMEN SYSTEM
(AIMS)
UNIVERSITAS AIRLANGGA
Tujuan
Tujuan penerapan smart building di Lingkungan Universitas Airlangga adalah upaya untuk penghematan energi pada bangunan yang lebih efisien dan ramah lingkungan tanpa mengurangi keselamatan, kenyamanan dan produktivitas.
Ruang Lingkup
Prosedur penerapan smart bulding ini mencakup pengaturan otomatisasi pada sistem pengatur suhu, kelembaban, pencahayaan, energi dan keamanan pada Gedung di Lingkungan Universitas Airlangga.
Target Mutu
Penerapan smart bulding dengan menggunakan sistem otomatisasi yang terskenario pada Gedung dapat menjadikan bangunan tersebut lebih hemat penggunaan energi listrik dan berkurangnya kadar emisi gas buang sehingga lebih ramah lingkungan.
Definisi
Smart Building adalah suatu sistem integrasi antara teknologi dengan instalasi bangunan yang memungkinkan perangkat dalam fasilitas bangunan dapat dirancang dan program sesuai skenario dengan kontrol otomatis.
Referensi
UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan kerja.
UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
PP RI No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2012 tentang Penghematan Pemakaian Tenaga Listrik
Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja
Didistribusikan Kepada
Semua pemegang controlled copy
Prosedur
Prosedur ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Setiap perubahan atas langkah dalam prosedur dan borang yang digunakan harus menggunakan mekanisme yang diatur dalam Prosedur Pengendalian Dokumen (PM-UNAIR-MSM-02).
Penyusun prosedur dan pemeriksa prosedur bertanggung jawab untuk memastikan :
Semua personel yang terlibat dalam prosedur ini mengerti dan memahami setiap langkah dan ketentuan dalam prosedur ini.
Prinsip kerja smart building ini adalah integrasi berbagai komponen pada bangunan. Dari komponen yang diinstal ini selain dapat diatur secara otomatis juga terjalin komunikasi antar komponen. Secara umum metode yang digunakan untuk bangunan pintar adalah dengan menggunakan sensor. Berikut ini komponen dari smart building dan metode pengintegrasiannya.
Energi
Pengelolaan Energi Listrik secara manual ada kecenderungan untuk pemborosan energi. Penggunaan sistem otomatis pada alat listrik dapat lebih efisien dan optimal dalam penggunaan energi listrik.
Prosedur dalam pengelolaan energi listrik yaitu dengan melakukan pemasangan Electrical current (CT) sensors pada smart building, hal tersebut bertujuan memperhitungkan penggunaan energi yang dapat diterapkan pada sebuah sirkuit, zona, atau level mesin. Sehingga peralatan listrik seperti pompa, dispenser, komputer, televisi, dan sebagainya, dalam posisi mati atau tidak terkoneksi dengan aliran listrik saat bangunan sedang kosong.
Pencahayaan
Pembangunan Gedung Baru dan Pemeliharaan Gedung lama harus menerapkan prinsip smart building pada pengelolaan pencahayaan pada ruangan. Prinsip kerja komponen ini terkait pengaturan intensitas cahaya yang cukup pada ruangan secara otomatis dan sesuai skenario dengan menggunakan sensor sehingga saat tidak ada penghuni pada ruangan tersebut lampu otomatis mati.
Prosedur dalam pengelolaan pencahayaan yaitu dengan menggunakan optical sensors. Prinsip kerja optical sensors, yaitu saat hari yang cerah, tirai dibuka, level cahaya cukup terang, maka lampu secara otomatis bisa dimatikan. Namun bila cuaca mendung atau hujan, tidak cukup cahaya untuk menerangi, lampu pun otomatis akan menyala. Tingkat pencahayaan juga bisa diatur lebih detail lagi. Begitupun ketika jam operasional gedung sudah berakhir, maka lampu bisa dimatikan seluruhnya. Terkecuali ruang keamanan, dimana disitu masih ada petugas.
Sistem Pemadam Kebakaran
Pembangunan Gedung Baru dan Pemeliharaan Gedung lama harus menerapkan prinsip smart building dalam upaya mencegah terjadinya bahaya kebakaran di tempat kerja.
Prosedur dalam melakukan pencegahan bahaya kebakaran yaitu dengan membuat sistem pemadam kebakaran yang otomatis berupa pemasangan fire alarm atau smoke detector. Dimana kedua alat tersebut mampu mendeteksi secara dini terjadinya kebakaran dalam suatu Gedung, sehingga bisa cepat teridentifikasi dan tidak menjalar menjadi api yang lebih besar.
Sistem Perparkiran
Pembangunan Gedung Baru dan Pemeliharaan Gedung lama harus menerapkan prinsip smart building dalam upaya mencegah terjadinya pencurian kendaraan bermotor.
Prosedur pengelolaan parkir yaitu dibagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah untuk pengguna dan yang kedua untuk tamu. Sistem parkir untuk pengguna menggunakan RFID yang bekerja sama dengan sistem keamanan melalui IBMS. Sedangkan sistem parkir untuk tamu menggunakan tiket.
Alarm akan menyala jika terjadi hal-hal berikut:
Barrier rusak
Barrier dibuka secara manual
Kartu parkir macet
Go Offline
System Start-up
Barrier tidak dapat dibuka
Air
Pembangunan Gedung Baru dan Pemeliharaan Gedung lama harus menerapkan prinsip smart building dalam upaya penghematan penggunaan air.
Prosedur dalam melakukan penghematan air yaitu perlindungan sirkuit overflow untuk overhead tank, urinoir dan kran air yang berdasarkan sensor mampu.
Tata Udara
Pembangunan Gedung Baru dan Pemeliharaan Gedung lama menerapkan prinsip smart building pada pengelolaan suhu dan kelembaban pada ruangan. Prinsip kerja komponen ini terkait pengaturan suhu dan kelembaban secara otomatis dengan menggunakan sensor pada perangkat fasilitas bangunan.
Prosedur dalam pengelolaan tata udara yaitu dengan memonitoring secara otomatis suhu dan kelembapan ruangan. Dengan menggunakan sensor temperatur dan suhu. Bisa diatur pada suhu berapa AC atau pemanas dinyalakan atau dimatikan, dimana standar suhu AC yang normal yaitu 25°C.
Lift
Pembangunan Gedung Baru dan Pemeliharaan Gedung lama menerapkan prinsip smart building pada pengelolaan lift dalam upaya penghematan energi.
Prosedur dalam pengelolaan lift yaitu dengan mengatur system otomatisasi dalam tombol lift yang terdiri dari :
Lift hanya bisa beroperasi dari lantai 1 ke lantai 3 dan lantai seterusnya dengan melewati lantai 2.
Lift ototmatis berada di lantai dasar pada saat terjadi bencana baik itu kebakaran maupun gempa bumi.
Akses dan Keamanan
Pembangunan Gedung Baru dan Pemeliharaan Gedung lama menerapkan prinsip smart building pada pengelolaan keamanan Gedung.
Prosedur kerja dalam pengelolaan akses keluar masuk dan system keamanan Gedung yaitu dengan pemasangan CCTV, door lock, sensor, dan alarm yang terintegrasi, sehingga menjadikan bangunan lebih aman. Saat ini sudah ada berbagai jenis door lock yang tersedia di pasaran. Mulai dari yang menggunakan sidik jari, QR Code, barcode, RFID, dan sebagainya. Hal ini tentu mencegah sembarang orang untuk bisa masuk. Apabila berhasil menerobos masuk pun, sensor akan mengirim data saat pintu terbuka. CCTV pun siap merekam walau dalam keadaan gelap. Pemantauan ini bisa dilakukan via Smart Phone atau layar monitor pihak security. Bagian yang diterobos bisa dikunci secara paksa, sehingga penerobos tidak mungkin melarikan diri.